Niat Menikah yang Salah

Menikah berarti siap dengan adanya ujian dan tanggung jawab, siap ketika dihadapkan pada masalah untuk senantiasa sabar dan syukur dan siap untuk mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Namun yang tak kalah pentingnya dalam persiapan mental dan ruhiyah adalah kesiapan untuk menata ketundukan pada setiap ketentuan Allah. Sesuatu hal bisa dikatakan baik jika memenuhi 2 syarat yaitu yang pertama niatnya baik, yang kedua caranya juga baik.

 

Misalkan ada seorang siswa dengan niatan untuk membahagiakan dan membuat orang tua bangga, maka saat ujian dia berbuat curang dengan mencuri jawaban atau mencontek dari pihak lain. Meskipun niatnya baik, tapi caranya tidak baik, sehingga perbuatannya menjadi tidak baik pula. Misalkan seseorang yang menjadi imam sholat memanjangkan surat yang dibaca agar orang tahu tentang banyaknya hafalan Qur’an yang ia miliki. Meskipun caranya baik, tapi niatnya tidak baik. Sama halnya dengan pernikahan. Jangan sampai memiliki niat menikah yang salah.

 

Jika menikah adalah sesuatu hal yang baik, maka segala sesuatunya kita pastikan juga baik versi Allah. Baik pada saat menata niatnya, baik dalam proses menuju pernikahannya (berkenalan, lamaran, dan sebagainya) dan baik pula saat mengarungi bahtera berikutnya. Berikut penjelasan lanjutannya.

 

Baik Dalam Niat

Saat akan melakukan sesuatu pasti ada niatnya dan pasti juga ada motivasinya. Saat kita akan menikah, silahkan lihat kembali hati kita dan silahkan lihat kembali niat kita. Apakah niatnya? Apakah motivasinya? Tentu kita memiliki alasan yang beragam. Oleh karena itu Rasulullah memberikan rambu-rambu niat saat kita akan menggenapkan separuh agama. Seperti yang terdapat dalam hadist yang tidak hanya berlaku saat mencari istri, tapi juga berlaku saat memilih suami, yang berbunyi Wanita dinikahi karena empat hal diantaranya karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya.

 

Pilihlah karena agamanya, maka engkau akan beruntung (diriwayatkan oleh HR. Al Bukhari). Ada juga yang terdapat dalam buku Ust Salim A. Fillah yang redaksinya berbunyi “Barang siapa yang menikahi perempuan hanya karena kemuliaannya, Allah tidak akan menambah kepadanya kecuali kehinaan. Barang siapa yang menikahi perempuan hanya karena hartanya, maka Allah tidak akan menambah kecuali kemiskinan. Barang siapa yang menikahi perempuan hanya karena keturunannya, Allah tidak akan menambahkan kepadanya kecuali kerendahan” (HR Thabrani). Jika kita menikah karena kagum akan nasab/keturunannya, tunggu saja sampai Allah membuka aib dan menurunkan kehormatannya.

 

Jika kita menikah karena kagum dengan hartanya, tunggu saja sampai Allah mengujinya dengan kemiskinan. Intinya, jika kita menikah karena kekayaannya, silau dengan hartanya, maka bisa jadi dia akan menjadi suami kita tapi setelah itu Allah akan mempercepat hilangnya kekayaan yang kita banggakan tersebut. Sama halnya untuk urusan kebagusan wajahnya yaitu cantik dan gantengnya. Apakah hal tersebut termasuk niat menikah yang salah? Apakah kita tidak boleh menikahi seseorang yang memiliki kriteria tersebut? Tentu saja boleh. Bukan berarti kita tidak boleh menikah dengan laki-laki atau perempuan yang bagus wajahnya, kaya dan dari keturunan terhormat. Namun, disini menegaskan bahwa kebaikan agama lah yang menjadi standar utama kita dalam menikah. Penting untuk menata ketundukan pada setiap ketentuan Nya dalam setiap bagian pernikahan, termasuk untuk urusan niat.

 

Diatas merupakan penjelasan mengenai Niat Menikah yang Salah. Jadi, sebaiknya kita menata niat yang baik terlebih dahulu sebelum menikah. Supaya pernikahan yang akan dijalankan dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan. Semoga penjelasan tersebut dapat menambah wawasan dan bermanfaat.

 

 

Download Aplikasi Yawme: aplikasi dengan beragam fitur untuk membantu kamu menjadi muslim yang lebih produktif dalam beribadah.

Please follow and like us:
0

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *